Melalui Model Kooperatif Tipe make a Mach pada Pendidikan Agama Islam Sebagai upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas V SD N 1 Ngaren
Melalui Model Kooperatif Tipe make a Mach pada Pendidikan Agama Islam Sebagai upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas V SD N 1 Ngaren
ROHMAD SRI YUNANTO, S FIL.I
SDN 1 Ngaren, Pedan, Klaten, Jawa Tengah
ABSTRAK
Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri 1 Ngaren . Yang menjadi subjeknya adalah guru dan siswa kelas V SD Negeri 1 Ngaren. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hasil belajar siswa setelah menggunakan metode make a match. Penelitian ini berlatar belakang permasalahan dari kurangnya penggunaan metode yang bervariasi dan dapat digunakan dalam proses pembelajaran di kelas dan lebih mengandalkan metode mengajar yang konvensional, sehingga peserta didik kurang termotivasi dalam belajar yang menyebabkan nilai siswa tergolong rendah. Penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan kelas (PTK) yang dilaksanakan pada semester ganjil 2021/2022. Adapun tujuan penelitian tindakan kelas ini adalah untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa pada materi “Teladan Mulia Asmaul Husna” dengan menggunakan metode make a match dalam pembelajaran. Sumber data yang di ambil adalah sumber data utama atau primer yaitu peserta didik kelas V SD Negeri 1 Ngaren yang terdiri dari 10 Peserta didik. Sedangkan untuk tekhnik pengumpulan data pelengkap atau skunder saya ambil dari guru sebagai observer ketika proses pembelajaran berlangsung selama 3 siklus. Dalam penelitian ini terdapat empat tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan,observasi dan refleksi. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan tes tertulis. Dari hasil peneliti peroleh hasil belajar Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti peserta didik mengalami peningkatan dengan menggunakan metode Make a Match. Hal ini dibuktikan dengan hasil belajar pada siklus 1 yaitu 40% sedangkan pada siklus ke II yaitu 60% dan siklus ke III 100% dengan nilai rata-rata 87.
Kata Kunci : Pendidkan Agama Islam, metode pembelajaran make a match, hasil belajar, Asmaul Husna.
PENDAHULUAN
Pembelajaran Aqidah pada usia anak sangat penting. Disamping sarana untuk melatih anak dalam memperkuat keimanan kepada Allah SWT, Aqidah juga sangat besar manfaatnya dalam kehidupan rohani manusia. Dengan demikian , selain sebagai tugas dari orang tua, guru sebagai sosok pengganti orang tua dalam dunia pendidikan juga memiliki persamaan tugas dan tanggung jawab dalam merencanakan dan melaksanakan pembelajaran untuk anak didik, termasuk dalam penanaman Aqidah .
Kondisi pembelajaran yang ada di SDN 1 Ngaren, khususnya peserta didik yang berada di kelas 5 sebagian besar hasil belajarnya rendah pada mata pelajaran PAI materi Aqidah , lebih dekat dengan nama-nama allah. Berdasarkan hasil belajar yang dilakukan oleh siswa, hanya 20% siswa ywang mendapatkan nilai di atas Kriteria Ketuntasan Tujuan pembelajaran ( KKTP ). Nilai KKTP yang ditetapkan di sekolah tersebut pada pembelajaran PAI adalah 75, akan tetapi nilai rata-rata yang diperoleh hanyalah 56. Hal tersebut menunjukkan bahwa nilai siswa jauh dari standar nilai yang seharusnya diperoleh.
Idealnya perlu sesuatu inovasi baru dalam pembelajaran. Proses pembelajaran yang diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa lebih tinggi dari sebelumnya. Peneliti akan menggunakan cara yang berbeda, yaitu dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe make a match. Peneliti menduga dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe make a match siswa dapat senang, aktif, dan bersemangat serta hasil belajarnya meningkat dalam pembelajaran PAI materi aqidah lebih dekat dengan nama-nama allah di kelas 5 SD.
Model pembelajaran kooperatif tipe make a match adalah model pembelajaran aktif untuk mendalami atau melatih materi yang telah dipelajari Setiap siswa menerima satu kartu. Kartu tersebut berisi pertanyaan, bisa berisi jawaban. Selanjutnya mereka mencari pasangan yang cocok sesuai dengan kartu yang dipegang .
Rumusan Masalah
Berdasarkan permasalahan di atas, maka masalah yang dapat dirumuskan:
1. Bagaimana penerapan model pembelajaran kooperatif tipe make a match untuk meningkatkan hasil belajar siswa dan pemahaman pada materi aqidah lebih dekat dengan nama-nama Allah di kelas 5 SDN1 Ngaren ?
2. Bagaimana peningkatan hasil belajar siswa kelas 5 SDN1 Ngaren setelah diterapkannya model pembelajaran kooperatif tipe make a match?
Tujuan Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan maksud meningkatkan hasil belajar siswa kelas 5 SDN1 Ngaren , dan secara khusus tujuan dilakukannya penelitian ini adalah:
1. Untuk mendeskripsikan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe make a match untuk meningkatkan hasil belajar siswa dan pemahaman pada materi aqidah lebih dekat dengan nama-nama Allah di kelas 5 SDN1 Ngaren .
2. Untuk mendeskripsikan peningkatan hasil belajar siswa kelas 5 SDN1 Ngaren setelah diterapkannya model pembelajaran kooperatif tipe make a match.
Manfaat Penelitian
Berdasarkan tujuan penelitian di atas, maka manfaat penelitian ini adalah:
1. Bagi Guru
Diharapkan dapat membantu dan menambah inspirasi guru dalam meningkatkan hasil belajar siswa di kelas.
2. Bagi Siswa
Dengan adanya penelitian ini, siswa diharapkan lebih termotivasi dalam mengikuti pembelajaran di kelas, khususnya pada pembelajaran PAI materi Lebih dekat dengan nama –nama Allah sehingga hasil belajarnya dapat meningkat.
3. Bagi Sekolah
Penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe make a match diharapkan dapat membantu siswa dalam meningkatkan hasil belajar siswa dengan variasi pembelajaran yang berbeda, sehingga menghasilkan siswa lulusan yang bermutu dan berguna bagi agama, nusa, dan bangsa.
4. Bagi Peneliti
Peneliti akan memeroleh ilmu dan pengalaman baru mengenai keterampilan belajar mengajar di kelas, khususnya pembelajaran menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe make a match yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Make A Match
Model pembelajaran kooperatif tipe make a match artinya model belajar dengan mencari pasangan. Salah satu keunggulan model ini adalah siswa mencari pasangan sambil belajar mengenai suatu konsep atau topik dalam suasana yang menyenangkan. Make a match merupakan suatu model pembelajaran yang mengajak siswa mencari jawaban terhadap suatu pertanyaan atau pasangan dari suatu konsep melalui suatu permainan kartu pasangan.
Karakteristik model kooperatif tipe make a match adalah memiliki hubungan yang erat dengan karakteristik siswa yang gemar bermain. Pelaksanaan model kooperatif tipe make a match harus didukung dengan keaktifan siswa untuk bergerak mencari pasangan dengan kartu yang sesuai dengan jawaban atau pertanyaan dalam kartu tersebut. Siswa yang pelajarannya dengan model kooperatif tipe make a match aktif dalam mengikuti pembelajaran sehingga mempunyai pengalaman belajar yang bermakna.
METODE PENELITIAN
Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian Tindakan kelas atau PTK (Classroom Action Research) memiliki peranan yang sangat penting dan strategis untuk meningkatkan mutu pembelajaran apabila diimplementasikan dengan baik dan benar. Diimplementasikan dengan baik, artinya pihak yang terlibat dalam PTK (guru) mencoba dengan sadar mengembangkan kemampuan kemampuan dalam mendeteksi an memecahkan masalah-masalah yang terjadi dalam pembelajaran di kelas melalui tindakan bermakna yang diperhitungkan dapat memcahkan masalah atau memperbaiki situasi dan kemudian secara cermat mengamati pelaksanaanya untuk mengukur tingkat keberhasilannya.
Tempat, Waktu dan Subyek Penelitian
Tempat pelaksanaan penelitian ini, dilaksanakan di kelas 5 SDN1 Ngaren Kecamatan Pedan difokus kan pada pelajaran PAI dengan menerapkan metode pembelajaran make a Match.
Waktu penelitian ini akan dilaksanakan pada semester ganjil, yaitu dimulai pada bulan November s/d Desember 2021 semester ganjil tahun pelajaran 2021/2022
Subyek penelitian yang akan dianalisis adalah siswa kelas 5 SDN1 Ngaren Kecamatan Pedan , dengan jumlah siswa 7 laki-laki dan 3 perempuan.
Teknik Pengumpulan Data
Peneliti menggunakan beberapa metode untuk menggali informasi yang dibutuhkan. Metode yang dipakai peneliti untuk mendapatkan informasi tersebut antara lain sebagai berikut Observasi, Dokumentasic dan Tes.
Indikator Kinerja
Indikator kinerja adalah suatu kriteria yang digunakan untuk melihat tingkat keberhasilan penelitian tindakan kelas dalam meningkatkan atau memperbaiki pembelajaran di kelas. Dalam suatu penelitian, indikator kinerja harus realistic dan dapat diukur. Melihat latar belakang permasalahan yang ada, maka diperlukan indicator untuk melihat adanya peningkatan hasil belajar pada siswa. Indikator tersebut adalah hasil belajar siswa kelas 5 SDN1 Ngaren Kecamatan Pedan pada mata pelajaran PAI materi Lebih dekat dengan nama-nama Allah dari siklus ke siklus yaitu meningkat dengan persentase ketuntasan siswa sebesar 50%.
Indikator keberhasilan pada penelitian ini adalah adanya peningkatan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dari siklus ke siklus, yaitu meningkatkan hasil belajar siswa di tandai dengan tercapainya kriteria ketuntasan minimal (KKTP) mata pelajaran PAI dengan nilai > 75 mencapai 85% di akhir siklus secara klasikal.
Metode dan rancangan Penelitian
Sesuai dengan metode penelitian yang dipilih, yaitu penelitian tindakan kelas, maka penelitian ini menggunakan model penelitian menurut Kurt Lewin. Model penelitian ini berbentuk spiral yang terdiri dari 3 siklus, dengan rincian setiap siklus terdiri dari 4 langkah pokok, yaitu: perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Pelaksanaan penelitian ini diawali dengan mengidentifikasi masalah. Identifikasi masalah dilakukan peneliti dengan cara melakukan wawancara guru tentang permasalahan yang ada di dalam pembelajaran. Setelah mengidentifikasi masalah, bahwa langkah selanjutnya yang dilakukan adalah tahap penelitian. Setiap siklus dalam penelitian ini dilaksanakan dalam 1 pertemuan, yang dijelaskan sebagai berikut:
a. Perencanaan, peneliti menyiapkan segala komponen dalam pelaksanaan penelitian.
b. Tindakan, pada tahap ini kegiatan yang dilakukan adalah melaksanakan tindakan yang telah dirumuskan pada Modul Ajar.
c. Pengamatan, mengamati tindakan dan melihat hasil atau dampak dari tindakan yang telah dilakukan.
d. Refleksi, dengan mengkaji dan mengevaluasi hasil penelitian.
Teknik Analisis Data
Sebuah penelitian, setiap data yang diperoleh harus dianalisis secara mendetail, tepat dan akurat sesuai dengan jenis data yang dikumpulkan oleh peneliti. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan teknik statistik deskriptif untuk menganalisis data kuantitatif.
Statistik deskriptif adalah statistik yang digunakan untuk menganalisis data dengan cara mendiskripsikan atau menggambarkan obyek yang diteliti melalui data sampel sebagaimana adanya tanpa membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum atau generalisasi. Teknik ini digunakan untuk mengumpulkan data yang bersifat kuantitatif.
Perolehan nilai setiap siswa melalui tes hasil belajar secara tertulis diolah dengan rumus:
Ketentuan Belajar Klasikal : Jumlah Siswa tuntas di bagi jumlah seluruh siswa dikalikan 100%.
Nilai rata-rata = Jumlah nilai seluruh siswa dibagi jumlah seluruh siswa .
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
1. Pra siklus
Rekapitulasi hasil belajar kondisi awal atau pra siklus yang diperoleh siswa yaitu 20% siswa yang mendapatkan nilai di atas KKTP dengan nilai rata-rata kelas 66,5. Hasil pra siklus menunjukkan bahwa hasil belajar siswa kelas V SDN 1 Ngaren, Pedan, Klaten hasil belajarnya sangat rendah. Oleh karena itu, setelah melihat hasil pra siklus di atas, maka peneliti perlu adanya tindakan perbaikan dalam pembelajaran aqidah dengan menggunakan model kooperatif tipe make a match yang sudah disiapkan peneliti sebelumnya. Tindakan perbaikan yang dilakukan adalah dengan melakukan siklus I.
2. Siklus I
a. Perencanaan
Pada tahap perencanaan siklus I, kegiatan yang dilakukan adalah:
1) Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran PAI
Peneliti ( guru) menyusun Modul Ajar perbaikan ( Modul Ajar siklus 1) dari Modul Ajar sebelumnya ( prasiklus), Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dipergunakan sebagai perangkat pembelajaran ketika proses pembelajaran berlangsung sesuai dengan tindakan yang akan dilakukan.
2) Membuat Lembar Kerja Siswa
Lembar kerja siswa yang telah dibuat berjumlah 10 soal isian
3) Membuat Lembar Observasi Aktivitas Guru dan Siswa
Lembar observasi aktivitas guru dilakukan terhadap guru, sedangkan lembar observasi aktivitas siswa dilakukan terhadap siswa.
4)Menyiapkan Alat dan Bahan untuk Proses Pembelajaran
Peneliti memersiapkan LCD, Video tentang pembelajaran make a mach untuk menunjang kegiatan pembelajaran:
a) Alat dan bahan:Spidol/ bolpoin, Kertas HVS, Video Pembelajaran, LCD, Laptop
b) Cara membuat: Menulis pertanyaan dan jawaban mengenai Asmaul Husna ke dalam kertas
b. Pelaksanaan
Kegiatan awal pembelajaran, guru membuka pertemuan denga mengucap salam, menyapa siswa dan menanyakan kabar serta kesiapan siswa dalam menerima pelajaran.kemudian berdoa dan dilanjutkan menyayi lagu nasionalisme. Kemudian, guru mengaitkan materi yang sudah disampaikan pada pertemuan yang lalu dengan mengajukan pertanyaan.
Kegiatan Inti, guru meminta siswa untuk menyimak video tentang Asmaul Husna al qowiyyu al qoyyumu, al mumitu , almuhyi dan al bats . Guru dan siswa selanjutnya bertanya jawab seputar materi Asmaul Husna. Guru membagi siswa dalam 2 kelompok dan guru membagikan LKPD. Setelah siswa mendapatkan LKPD, guru memberikan arahan mengenai teknis pelaksanaan pembelajaran bahwa tiap kelompok bekerja sama mencari pasangan dari tiap gambar kartu yang tertera dalam LKPD dengan cara mencocokan pertanyaan dan jawaban dengan cara memberi garis pada tiap pasangan yang sudah di temukan. Siswa diberikan waktu 15 menit untuk mencari pasangan kartu tanpa berbicara, namun masih ada beberapa siswa yang berbicara dalam pencariannya. Ada juga siswa yang kurang paham dengan arahan guru, sehingga guru mencoba untuk mendekati siswa tersebut dan memberikan arahan yang lebih jelas dan sederhana.Setelah selesai siswa mempresentasikan hasil diskusi dan guru memberikan penguatan materi.
Selanjutnya, guru membagikan lembar kerja untuk evaluasi siswa untuk dikerjakan dalam waktu 15 menit. Lembar kerja tersebut berisi 5 soal isian. Setelah selesai mengerjakan, siswa mengumpulkan hasil kerjanya di meja guru. Kegiatan penutup, guru membuat kesimpulan bersama siswa tentang materi yang sudah dipelajari. Memberikan beberapa pertanyaan untuk mengevaluasi atau menguatkan pengetahuan siswa. Kemudian guru mengakhiri pertemuan dengan doa bersama dan mengucapkan salam.
c. Observasi
Selama kegiatan belajar mengajar berlangsung, observer melakukan
pengamatan terhadap kegiatan guru dan siswa. Pengamatan dilakukan dengan menggunakan lembar observasi aktivitas guru dan siswa. Adapun hasil yang diperoleh dari observasi yang dilakukan selama proses pembelajaran, sebagai berikut:
1) Hasil Observasi Aktivitas Guru Siklus I
Kegiatan observasi aktivitas guru dilakukan oleh Kepala Sekolah. Hasil observasi aktivitas guru adalah baik yaitu 85.
2) Hasil Observasi Aktivitas Siswa Siklus I
Hasil observasi aktivitas siswa pada siklus I yaitu skor lumayan baik dari 10 siswa. Tetapi hasil pengamatan aktivitas siswa secara keseluruhan siswa belum beraktivitas secara maksimal dalam pembelajaran. Penyebabnya yaitu ada beberapa siswa yang tidak fokus saat mendengarkan penjelasan dari guru. Di antaranya siswa ada yang lari-lari, menjaili temannya dan tidak begitu mendengarkan penjelasan guru. Hasil dari observasi aktifitas siswa pada siklus I adalah cukup yaitu 73.
Hasil Nilai Belajar Siswa Siklus I
Berdasarkan hasil yang sudah didapat pada siklus I, maka dapat diketahui terdapat peningkatan hasil belajar siswa pada mata pelajaran PAI materi Asmaul Husna tentang arti alqowiyyu, al qoyyumu, almumiitu, al muhyi, al bats yakni nilai rata-rata kelas yang diperoleh adalah 67,7 dan hasil persentase ketuntasan belajar siswa sebesar 40 % dan yang belum tuntas 60 %.. Peneliti menginginkan perolehan nilai di atas 85 supaya mendapatkan predikat hasil belajar sangat tinggi.
d. Refleksi
Berdasarkan hasil observasi dan tes diketahui bahwa pada siklus I diperoleh data yaitu:
1) Tingkat keberhasilan hasil belajar siswa masih belum mencapai kriteria yang diharapkan (peneliti menginginkan perolehan nilai di atas 85).
2) Beberapa siswa masih bingung dengan materi Asmaul Husna al qowiyyu, alqoyyumu, al muhyi , al mumiitu , al bats. Untuk mencocokan kartu.
Pada siklus I, peran siswa kurang, disebabkan masih ada juga siswa yang belum paham dengan mencocokan gambar kartu antara pertanyaan dan jawaban dengan cara menggaris pasangannya di karenakan pertanyaan dan jawaban ditampilkan menjadi satu dalam LKPD sehingga tingkat keaktifan siswa kurang terlihat, tetapi minat dan perhatian siswa lebih baik yang terlihat ketika pelaksanaan mencari soal jawaban pada proses pembelajaran terasa sangat menyenangkan.
Siklus II
a. Perencanaan
Pada tahap perencanaan siklus II, kegiatan yang dilakukan adalah:
1) Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran PAI
Peneliti ( guru) menyusun Modul Ajar perbaikan ( Modul Ajar siklus II) dari Modul Ajar sebelumnya (siklus 1), Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dipergunakan sebagai perangkat pembelajaran ketika proses pembelajaran berlangsung sesuai dengan tindakan yang akan dilakukan.
2) Membuat Lembar Kerja Siswa
3) Membuat Lembar Observasi Aktivitas Guru dan Siswa
4) Menyiapkan Alat dan Bahan untuk Proses Pembelajaran
Peneliti memersiapkan LCD, Video tentang pembelajaran make a mach untuk menunjang kegiatan pembelajaran:
a) Alat dan bahan:Spidol/ bolpoin,Kertas HVS , Video Pembelajaran LCD, Laptop ,Kartu yang berisi pertanyaan dan jawaban
b) Cara membuat:Menulis pertanyaan dan jawaban mengenai Asmaul Husna ke dalam kertas.
b. Pelaksanaan
Kegiatan awal pembelajaran, guru membuka pertemuan dengan mengucap salam, menyapa siswa dan menanyakan kabar serta kesiapan siswa dalam menerima pelajaran.kemudian berdoa dan dilanjutkan menyayi lagu nasionalisme. Kemudian, guru mengaitkan materi yang sudah disampaikan pada pertemuan yang lalu dengan mengajukan pertanyaan.
Kegiatan Inti, guru meminta siswa untuk menyimak video tentang Asmaul Husna al qowiyyu al qoyyumu, al mumitu , almuhyi dan al bats . Guru dan siswa selanjutnya bertanya jawab seputar materi Asmaul Husna. Guru membagi siswa dalam 2 kelompok dan guru membagikan Kartu berisis pertanyaan dan jawaban . Setelah masing-masing siswa mendapatkan 1 kartu, guru memberikan arahan mengenai teknis pelaksanaan pembelajaran bahwa tiap kelompok bekerja sama mencari pasangan dari tiap kartu yang di bagi secara acak dan dilakukan di dalam ruangan . Siswa diberikan waktu 15 menit untuk mencari pasangan kartu tanpa berbicara, namun masih ada beberapa siswa yang berbicara dalam pencariannya. Ada juga siswa yang kurang paham dengan arahan guru, sehingga guru mencoba untuk mendekati siswa tersebut dan memberikan arahan yang lebih jelas dan sederhana.Setelah selesai siswa melaporkan hasil diskusi dan guru memberikan penguatan materi.
Selanjutnya, guru membagikan lembar kerja untuk evaluasi siswa untuk dikerjakan dalam waktu 15 menit. Lembar kerja tersebut berisi 5 soal isian. Setelah selesai mengerjakan, siswa mengumpulkan hasil kerjanya di meja guru.
c. Observasi
Selama kegiatan belajar mengajar berlangsung, observer melakukan
pengamatan terhadap kegiatan guru dan siswa. Pengamatan dilakukan dengan menggunakan lembar observasi aktivitas guru dan siswa. Adapun hasil yang diperoleh dari observasi yang dilakukan selama proses pembelajaran, sebagai berikut:
1) Hasil Observasi Aktivitas Guru Siklus II
Kegiatan observasi aktivitas guru dilakukan oleh Kepala Sekolah. Hasil observasi aktivitas guru adalah sangat baik yaitu 92.
2) Hasil Observasi Aktivitas Siswa Siklus II
Hasil observasi aktivitas siswa pada siklus II yaitu skor lumayan baik dari 10 siswa. Tetapi hasil pengamatan aktivitas siswa secara keseluruhan siswa beraktivitas dalam ruang kelas tetapi belum maksimal dalam pembelajaran. Penyebabnya yaitu ada beberapa siswa yang ketika mencari pasangan kartu terganggu dengan meja kursi yang ada di ruangan sehingga terasa sempit tidak fokus saat mencari pasangan kartu. Hasil observasi aktivitas siswa adalah baik yaitu 82.
Hasil Nilai Belajar Siswa Siklus II
Berdasarkan hasil yang sudah didapat pada siklus IIwalaupun siswa belum focus karena keterbatasan ruangan yang sempit juga mengalami peningkatan , maka dapat diketahui terdapat peningkatan hasil belajar siswa pada mata pelajaran PAI materi Asmaul Husna tentang arti alqowiyyu, al qoyyumu, almumiitu, al muhyi, al bats yakni nilai rata-rata kelas yang diperoleh adalah 74,3 dan hasil persentase ketuntasan belajar siswa sebesar 60 %. Peneliti menginginkan perolehan nilai di atas 85 supaya mendapatkan predikat hasil belajar sangat tinggi. (Nilai siklus II tertera dalam lampiran )
d. Refleksi
Berdasarkan hasil observasi dan tes diketahui bahwa pada siklus II diperoleh data yaitu:
1) Tingkat keberhasilan hasil belajar siswa masih belum mencapai kriteria yang diharapkan (peneliti menginginkan perolehan nilai di atas 85).
2) Beberapa siswa masih kurang focus dengan materi Asmaul Husna al qowiyyu, alqoyyumu, al muhyi , al mumiitu , al bats. Untuk mencocokan kartu karena keterbatasan ruang yang dipenuhi meja kursi sehingga ketika memasangkan kartu terganggu. .
Pada siklus II, peran siswa sangat senang mengikutinya dengan metode make amach yaitu mencari pasangan kartu yang berisi pertanyaan dan jawaban.
Siklus III
a. Perencanaan
Pada tahap perencanaan siklus III, kegiatan yang dilakukan adalah:
1) Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran PAI
Peneliti ( guru) menyusun Modul Ajar perbaikan ( Modul Ajar siklus II1) dari Modul Ajar sebelumnya (siklus I1), Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dipergunakan sebagai perangkat pembelajaran ketika proses pembelajaran berlangsung sesuai dengan tindakan yang akan dilakukan.
2) Membuat Lembar Kerja Siswa
Lembar kerja siswa yang telah dibuat berjumlah 10 soal isian
3) Membuat Lembar Observasi Aktivitas Guru dan Siswa
4) Menyiapkan Alat dan Bahan untuk Proses Pembelajaran
Peneliti memersiapkan LCD, Video tentang pembelajaran make a mach untuk menunjang kegiatan pembelajaran:
a) Alat dan bahan: Spidol/ bolpoin,Kertas HVS ,Video Pembelajaran LCD, Laptop, Kartu yang berisi pertanyaan dan jawaban
b) Cara membuat:Menulis pertanyaan dan jawaban mengenai Asmaul Husna ke dalam kertas.
b. Pelaksanaan
Kegiatan awal pembelajaran, guru membuka pertemuan dengan mengucap salam, menyapa siswa dan menanyakan kabar serta kesiapan siswa dalam menerima pelajaran.kemudian berdoa dan dilanjutkan menyayi lagu nasionalisme. Kemudian, guru mengaitkan materi yang sudah disampaikan pada pertemuan yang lalu dengan mengajukan pertanyaan.
Kegiatan Inti, guru meminta siswa untuk menyimak video tentang Asmaul Husna al qowiyyu al qoyyumu, al mumitu , almuhyi dan al bats . Guru dan siswa selanjutnya bertanya jawab seputar materi Asmaul Husna. Guru membagi siswa dalam 2 kelompok dan guru membagikan Kartu berisi pertanyaan dan jawaban . Setelah masing-masing siswa mendapatkan 1 kartu, guru memberikan arahan mengenai teknis pelaksanaan pembelajaran bahwa tiap kelompok bekerja sama mencari pasangan dari tiap kartu yang di bagi secara acak dan dilakukan di Luar ruangan sehingga bisa mencari pasangannya dengan bebas tanpa ada penghalang seperti meja kursi dan lainnya. Siswa diberikan waktu 15 menit untuk mencari pasangan kartu tanpa berbicara, namun masih ada beberapa siswa yang berbicara dalam pencariannya. Ada juga siswa yang kurang paham dengan arahan guru, sehingga guru mencoba untuk mendekati siswa tersebut dan memberikan arahan yang lebih jelas dan sederhana.Setelah selesai siswa melaporkan hasil diskusi dan guru memberikan penguatan materi.
Selanjutnya, guru membagikan lembar kerja untuk evaluasi siswa untuk dikerjakan dalam waktu 15 menit. Lembar kerja tersebut berisi 5 soal isian. Setelah selesai mengerjakan, siswa mengumpulkan hasil kerjanya di meja guru.
c. Observasi
Selama kegiatan belajar mengajar berlangsung, observer melakukan
pengamatan terhadap kegiatan guru dan siswa. Pengamatan dilakukan dengan menggunakan lembar observasi aktivitas guru dan siswa. Adapun hasil yang diperoleh dari observasi yang dilakukan selama proses pembelajaran, sebagai berikut:
1) Hasil Observasi Aktivitas Guru Siklus III
Kegiatan observasi aktivitas guru dilakukan oleh Kepala Sekolah. Hasil observasi aktivitas guru adalah sangat baik yaitu 98.
2) Hasil Observasi Aktivitas Siswa Siklus III
Hasil observasi aktivitas siswa pada siklus III yaitu skor lumayan baik dari 10 siswa. Hasil pengamatan aktivitas siswa secara keseluruhan siswa beraktivitas di luar ruang kelas sehingga tidak terganggu dalam mencari pasangannya dan sudah dilakukan secara maksimal dalam pembelajaran. . mereka sudah fokus saat mencari pasangan kartu. Hasil observasi aktivitas siswa adalah sangat baik yaitu 96.
3) Hasil Nilai Belajar Siswa Siklus III
Berdasarkan hasil yang sudah didapat pada siklus III, mengalami peningkatan yang besar karena anak bebas ketika belajar di luar ruangan , maka dapat diketahui terdapat peningkatan hasil belajar siswa pada mata pelajaran PAI materi Asmaul Husna tentang arti alqowiyyu, al qoyyumu, almumiitu, al muhyi, al bats yakni nilai rata-rata kelas yang diperoleh adalah 87 dan hasil persentase ketuntasan belajar siswa sebesar 100 %. Hal yang di inginkan oleh peneliti sudah terpenuhi yang mana peneliti menginginkan perolehan nilai di atas 85 sudah terpenuhi. (Nilai siklus III tertera dalam lampiran )
d. Refleksi
Berdasarkan hasil observasi dan tes diketahui bahwa pada siklus III diperoleh data yaitu:
1) Tingkat keberhasilan hasil belajar siswa sudah mencapai kriteria yang diharapkan (peneliti menginginkan perolehan nilai di atas 85).
2) Beberapa siswa sudah focus dengan materi Asmaul Husna al qowiyyu, alqoyyumu, al muhyi , al mumiitu , al bats. Ketika untuk mencocokan kartu karena kegiatan ini dilakukan di luar ruangan sehingga siswa merasa bebas dalam mencari pasangannya untuk mencocokan antara pertanyaan dan jawaban.
Pada siklus III, peran siswa sangat senang mengikutinya dengan metode make amach yaitu mencari pasangan kartu yang berisi pertanyaan dan jawaban.. Minat dan perhatian siswa lebih baik yang terlihat ketika pelaksanaan mencari soal jawaban pada proses pembelajaran terasa sangat menyenangkan.
PEMBAHASAN
Berdasarkan pengamatan pada pelaksanaan pembelajaran siklus I ,
Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe make a match dalam meningkatkan hasil belajar siswa materi Asmaul Husna di SDN 1 Ngaren ,Pedan, Klaten kurang maksimal. Kurang maksimalnya penerapan model pembelajaran kooperatif tipe make a match pada siklus I dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya beberapa siswa masih ramai sendiri, tidak fokus, sibuk bermain dengan temannya, sehingga ketika mencari pasangan dalam gambar kartu masih kebingungan karena pertanyaan dan jawaban masih tergabung dalam lembar LKPD . sehingga nilai yang diperoleh pada pencapaian hasil belajar yang tidak optimal yaitu hanya 40% atau 4 siswa mendapatkan nilai di atas KKTP.dan yang belum tuntas masih 60 % atau 6 siswa. mendapatkan nilai di bawah KKTP.
Perbedaan hasil belajar antara pra-siklus dan siklus I mengalami peningkatan walaupun belum maksimal. Guru juga berhasil dalam menciptakan kondisi kelas yang kondusif, memberi variasi dalam belajar yang lebih menyenangkan.
Grafik 1
Perbandingan Hasil Belajar Siswa prasiklus dan Siklus I
Dari grafik di atas membuktikan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe make a match pada materi Asmaul Husna dikatakan berjalan dengan baik. Hasil belajar yang diperoleh siswa pada kelompok yang menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe make a match lebih tinggi daripada kelompok siswa yang menerapkan ceramah disebabkan model pembelajaran kooperatif tipe make a match membuat siswa belajar secara aktif. Siswa melakukan berbagai kegiatan seperti melakukan aktivitas berpikir untuk menemukan atau memilah kartu berkategori sama, bekerjasama menyelesaikan tugas dari guru, mempresentasikan hasil kerja, dan memberikan tanggapan atas pertanyaan guru. Aktivitas ini dapat membuat otak lebih lama menyimpan informasi yang diperoleh daripada hanya sekedar mendengarkan ceramah. Jika siswa hanya duduk mendengarkan ceramah dan mencatat penjelasan dari guru, maka siswa akan cepat melupakan informasi yang diperoleh sehingga berakibat pada pencapaian hasil belajar yang tidak optimal.
Pembahasan Siklus II
Berdasarkan pengamatan pada pelaksanaan pembelajaran siklus II ,
Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe make a match dalam meningkatkan hasil belajar siswa materi Asmaul Husna di SDN 1 Ngaren ,Pedan, Klaten juga belum optimal. Kurang optimalnya penerapan model pembelajaran kooperatif tipe make a match pada siklus II dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya ruangan terlalu sempit karena penuh dengan meja dan kursi sehingga siswa ketika mencari pasangan kartu terasa terganggu, tidak fokus, sehingga ketika mencari pasangan dalam kartu sebagian masih kebingungan.
Hasil penelitian menjelaskan bahwa siklus II hasil belajar siswa dengan pembelajaran aksi nyata dengan dibagikan kartu, hanya 60% atau 6 siswa yang mendapatkan nilai di atas KKTP dan 40 % atau 4 siswa mendapatkan nilai dibawah KKTP, yang ditetapkan di sekolah tersebut pada pembelajaran PAI adalah 75. Kegiatan di dalam kelas bersifat aktif. Hasil belajar siswa sudah mengalami peningkatan tetapi belum juga maksimal. Peneliti memberikan perubahan positif kepada siswa agar semangat belajar dan nilainya lebih tinggi di siklus II, yaitu dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe make a match dengan cara melakukan aksi nyata.
Perbedaan hasil belajar antara siklus I dan siklus II mengalami peningkatan. Perbandingan yang terjadi pada siklus I dan siklus II , yang mana pada siklus II beberapa siswa masih, tidak focus dan dilakukan dalam kelas sehingga pergerakannya dalam mencari pasangan kurang leluasa.
Grafik 2
Perbandingan Hasil Belajar Siswa Siklus I dan Siklus II
Dari grafik di atas membuktikan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe make a match pada materi Asmaul Husna dikatakan berjalan dengan baik. Hasil belajar yang diperoleh siswa pada kelompok yang menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe make a match dengan aksi nyata lebih tinggi daripada kelompok siswa yang menerapkan make a mach dalam LKPD disebabkan model pembelajaran kooperatif tipe make a match membuat siswa belajar secara aktif. Siswa melakukan berbagai kegiatan seperti melakukan aktivitas berpikir untuk menemukan atau memilah kartu berkategori sama, bekerjasama menyelesaikan tugas dari guru, mempresentasikan hasil kerja, dan memberikan tanggapan atas pertanyaan guru.
Pembahasan Siklus III
Berdasarkan pengamatan pada pelaksanaan pembelajaran siklus III , diperoleh hasil sebagai berikut.
Hasil penelitian menjelaskan bahwa siklus III hasil belajar siswa dengan pembelajaran aksi nyata dengan dibagikan kartu pertanyaan dan jawaban yang dilakukan di luar ruangan , 100% atau 10 siswa yang mendapatkan nilai di atas KKTP. Nilai KKTP yang ditetapkan di sekolah tersebut pada pembelajaran PAI adalah 75.
Perbedaan hasil belajar antara siklus II dan siklus III mengalami peningkatan. Perbandingan yang terjadi pada siklus II dan siklus III , yang mana pada siklus II beberapa siswa masih, tidak focus dan dilakukan dalam kelas sehingga pergerakannya dalam mencari pasangan kurang leluasa. Siklus III siswa lebih banyak aktif melakukan gerakan dalam mencari pasangan diluar ruangan , sehingga proses pembelajaran dirasa sangat menyenangkan dengan apa yang diajarkan guru. Peningkatan ini karena minat atau perhatian siswa terfokus pada pembelajaran sehingga hasil belajarnya bisa maksimal. Guru juga berhasil dalam menciptakan kondisi kelas yang kondusif, memberi variasi dalam belajar yang lebih menyenangkan.
Grafik 3
Perbandingan Hasil Belajar Siswa Siklus II dan Siklus III
Dari grafik di atas membuktikan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe make a match pada materi Asmaul Husna dikatakan berjalan dengan baik. Hasil belajar yang diperoleh siswa pada kelompok yang menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe make a match dengan aksi nyata berada diluar ruangan lebih tinggi daripada kelompok siswa yang menerapkan make a mach dalam ruangan. disebabkan model pembelajaran kooperatif tipe make a match diluar ruangan membuat siswa belajar lebih aktif dan leluasa dalam menemukan atau memilah kartu.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Data tentang peningkatan hasil belajar siswa pada pelajaran PAI materi Asmaul Husna melalui model pembelajaran kooperatif tipe make a match di SDN 1 Ngaren, Pedan, peneliti dapat mengambil kesimpulan sesuai dengan rumusan masalah yang telah diajukan dan sesuai dengan hasil dari pra siklus sampai siklus III sebagai berikut:
1. Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe make a match berjalan dengan
baik melalui perbaikan pada tiap siklus. Penjelasan ini dapat dilihat dari hasil observasi aktivitas guru meningkat dari 68 (cukup) pada pra- siklus menjadi 98 ( sangat baik) pada siklus 1II. Begitu pula pada aktivitas siswa meningkat dari skor 73 (cukup) pada prasiklus menjadi 96 ( sangat baik) pada siklus III.
2. Peningkatan hasil belajar siswa setelah diterapkannya model pembelajaran kooperatif tipe make a match terlihat dari hasil belajar siswa meningkat dari rata-rata kelas 66,5 saat pra siklus, kemudian menjadi rata-rata kelas 87 pada siklus III.
Saran
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe make a match, peneliti menyarankan:
1. Guru dan pihak sekolah dapat mencoba menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe make a match untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada materi lain yang memiliki hasil belajar rendah.
2. Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe make a match disesuaikan dengan materi yang akan diajarkan dan menggunakan metode pembelajaran yang tepat dalam menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe make a match agar pembelajaran lebih menarik.
DAFTAR PUSTAKA
Amin, Saiful. 2017. Metode Make A Match: Tujuan, Persiapan, dan Implementasinya dalam Pembelajaran.
Amri, Sofan. 2013. Pengembangan dan Model Pembelajaran dalam Kurikulum 2013 (Jakarta: Prestasi Pustaka).
Arifin, Zainal. 2013. Evaluasi Pembelajaran, Prinsip, Teknik, Prosedur (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya).
Baihaqi, Muhammad. et.al.. 2008. Evaluasi Pembelajaran (Surabaya: LAPISPGMI).
Jihad, Asep. et.al.. 2013. Evaluasi Pembelajaran (Yogyakarta: Multi Pressindo).
Kumalasari, Kokom. 2010. Pembelajaran Kontekstual, Konsep dan Aplikasi
(Bandung: PT Refika Aditama).
Kunto, Suharsimi Ari. 2003. Dasar-Dasar Evaluasi Pembelajaran (Jakarta: Bumi
Aksara).
Kurniawan, Fahmi. 2016. Buku Panduan Praktis Shalat Lengkap: Wajib dan Sunnah Plus Zikir dan Doa-Mudah Dipahami, Belajar Shalat Fardhu dan Sunnah Jadi Mudah! (th: Checlist).
Lie, Anita. 2005. Cooperative Learning Mempraktikkan Cooperative Learning di
Ruang-Ruang Kelas (Jakarta: Gramedia).
Maskub, Mukhammad. 2016. Tuntunan Shalat Wajib dan Sunat ‘Ala Aswaja
(Disertai Dalil Al-Qur’an/Hadits) (Kebumen: Mediatera).
Munadi, Yudhi. 2008. Media Pembelajaran: Sebuah Pendekatan Baru (Jakarta:
Gaung Persada Press).
Nugroho, U. et.al.. 2009. Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia: Penerapan
Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD Berorientasi Keterampilan Proses. Jurnal
(Semarang: Jurusan Fisika Universitas Negeri Semarang).
Nurhadi. 2003. Pembelajaran Kontekstual dan Penerapannya dalam KBK (Malang: Universitas Negeri Malang).
Ridho, Nur. 2011. Model Pembelajaran Kooperatif (Surabaya: Skp Unair).
Shoimin, Aris. 2016. 68 Model Pembelajaran Inovatif dalam Kurikulum 2013
(Yogyakarta: Ar-Ruzz Media).
Sugiyono. 2007. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif Kualitatif
dan R&D (Bandung: Alfabeta).
Suprijono, Agus. 2011. Cooperative Learning: Teori dan Aplikasi PAIKEM
(Yogyakarta: Pustaka Pelajar).